Rabu, 08 September 2010

Kucing! Sikat!!

Kayaknya baru kemarin kita masuk malam Ramadhan yang pertama, kok g kerasa udah mau pergi aja,ya? :(  Teman-teman, gimana nih? Puasanya? Zakatnya? Tarawihnya? Kalo ngomong soal Ramadhan, kayaknya udah bosen,kali,ya? Ngomongin yang lain aja,yuk!

Sejak beberapa hari yang lalu, di loteng rumah ada kucing +anak2nya. Sebenarnya, udah kesel aja sama kucing itu, tiap saat bunyi berisik, trus takutnya kucingnya itu buang hajat di loteng. Akhirnya, Mama manggil tukang kebun yang bisa betulin kabel telepon sekaligus ngambil kucing-kucing itu. Ternyata pada hari itu, om Mad(singkatan dari Ahmad) ga dateng.

Karena Om Mad g dateng, ayah ngasih syarat untuk izin ke gunung Gede. Syaratnya harus bisa naik ke loteng untuk ngeliat kucing di atas. Denger ayah ngomong gitu, saya awalnya agak deg-degan juga, maklum g pernah naik ke loteng. Tapi kok, caang Carve takut ketinggian? Akhirnya, saya jadi berani aja, toh resikonya cuma jatuh,kan? :D

 Beberapa hari kemudian, om Mad dateng. Kebetulan banget tuh, jadi ada 'rekan' jalan-jalan di loteng. Nah, pas om Mad masuk, saya ikutan masuk. Sambil bingung mana plafon mana kayu(habis kayunya keropos-keropos). Awalnya om Mad betulin genteng yang lepas karena kucing(kuat amat kucingnya..-_-). Trus om Mad ngecek kucingnya, saya juga ikutan ngelihat. Pas saya udah keluar, eh si gendut(Dio) masuk. Dengan gagahnya, dia melangkah seenaknya...tiba-tiba... BRUK!!! Suara kayu keropos yang terinjak pun terdengar, anehnya dia g denger sama sekali... -_-

Lanjut...

Ternyata, kucingnya susah diambil karena masuk ke kolong plafon. Jadinya, diputuskan untuk mengambil kucing pada esok hari. Sehingga, sampai hari ini, kucing hitam itu masih ada di loteng bersama 3 ekor anak2nya...

Oke2... Liat fotonya dulu laah.. :)




Selasa, 07 September 2010

Pluralisme? Apatuh?

Alhamdulillah, malam2 ada yang sms saya nanya soal muamalah. :P
"Gol, maaf malem2 sms, mau nanya tentang pluralisme. Pluralisme menurut kamu apa? Terus, apakah itu harga mati kerukunan umat beragama di Indonesia? Nah, kalau dalam Islam pluralisme hukum/statusnya apa?"

Jawaban saya, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah saya masih ingat. Saudaraku yang dirahmati Allah, ngomong soal pluralisme di negeri yang sekuler, memang tak ada habisnya. Mengapa? Banyak pendapat yang berbeda saling bersinggungan satu sama lain. Karena saya belum terlalu mengerti, jadi saya hanya menjawab dengan pendapat saya saja. Menurut pemahaman saya, pluralisme adalah suatu paham akan keadaan masyarakat yang majemuk, dalam hal ini termasuk sosial, politik, agama, tingkat pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. 
Disatu sisi, pluralisme ada pentingnya, disisi lain ada efek sampingnya. Masalah kerukunan, tidak ada harga mati di dalamnya. Contohnya, Turki yang kita kenal dengan negara yang sangat panjang sejarah Islam-nya. Saat ini menganut paham sekularisme. Ketika PM Turki diwawancarai wartawan, beliau lebih menyimpulkan bahwa kerukunan dan kesejahteraan rakyat, bergantung pada rakyat itu sendiri. Contohnya, mengapa Turki adalah negara yang berpaham sekuler? Bukankah Turki memiliki sejarah Islam yang kental? Erdogan menjawab bahwa Turki tidak akan memaksakan kehendak untuk kembali menjadi kekhilafahan. Rakyat Turki setuju dengan sekularisme di negaranya dan paham bahwa sekularisme memiliki konsekuensi. Oleh karena itu, selama suatu sistem pemerintahan membuat rakyatnya sejahtera, tidak ada salahnya memilih sistem tersebut. Walaupun begitu, Turki merencanakan mengeluarkan referendum tentang sistem pemerintahan, apakah ingin tetap sekuler atau kembali kepada sistem yang asal (khilafah).
Masalah pluralisme dalam Islam, saya belum bisa menjawab, karena membutuhkan dalil-dalil yang shahih."

Saudaraku, ingatlah bahwa pemerintahan bukanlah yang paling diprioritaskan. Tetapi pemerintahan hanyalah sebuah sarana untuk kita agar dapat beribadah kepada Allah. Ingatlah tujuan Islam yang murni, yakni Tauhid. Islam mengajarkan untuk berdamai antar umat beragama (Al-Kafirun : 1-6), bukan membuat perpecahan antara keduanya. Saudaraku, mulailah untuk menerima dengan ikhlas dan memahami dalam setiap hal karena dalam setiap hal tersembunyi berbagai hikmah dan makna.

Waallahu'alam.